Senin, 01 Februari 2016

Rindu, itu saja

Maaf aku hadir kembali..
Iya maaf atas rindu yang masih terus membiarkan hariku mengingat senyummu.

Apa kabar tubuhmu disana?
Apakah benar kamu baik-baik saja seperti firasat ku?
Maaf aku masih seperti ini yang masih mencoba lupa untuk tidak menjadikanmu alasan bahagiaku disetiap sebelum aku menyapu pelan mataku di setiap pagi.

Selamat 23 januari di 30 januari.
Selamat atas hari kelahiranmu, tapi apa kamu masih ingin diberi sebuah ucapan?. 2 tahun terakhir aku sengaja untuk tidak memberi ucapan apapun. Sungguh, aku bukan lupa tapi aku hanya tak ingin ada sebuah percakapan lagi bersamamu yang bisa membuat pikiran kekanak-kanakan ku menjadi-jadi. Aku ingat terakhir kali aku memberimu ucapan yang 'kekanak-kanak an' menurutmu. waktu itu aku mengirimi pesan suara yang ku kumpulkan dari teman-teman dekatku, dan semua berjumlah dengan usiamu saat itu. Semua itu karna Aku tahu tak bisa memberimu sesuatu berbentuk barang lagi karna jarak yang begitu jauh, maka aku ingin memberi sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum.

Lalu apa? Aku baru saja mengirimi beberapa pesan suara dan saat itu kamu malah marah kepadaku. dan aku? Hanya berhenti untuk melanjutkannya, seakan usahaku dan keikhlasan orang-orang yang rela membantuku sia-sia. Bukan hanya itu, aku telah menyiapkan Pesan suara milikku yang sebenarnya ingin ku kirim paling akhir untukmu. Dan semua aku hapus saja dalam sekejap saat itu.

Maaf aku bukan mau menyalahkanmu atas hal yang sudah lalu. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku pernah begitu berusaha untukmu.

Karna sampai kini jika kau ingin mengadu siapa yang paling hebat dalam mengingat kenangan, aku yakin menjadi pemenangnya. Iya aku masih mengingat semua hal itu. (Satu lagi kelakuan perempuan kekanak-kanakan mu, iya aku tahu).

Iya seperti itulah aku saat ini. Mengerti tak bisa menjadi 'kita' saat dulu namun masih berpesta bersama kenangan yang kau wariskan semuanya untukku.

yang kutulis ini bukan surat cinta, apalagi bukan untuk memintamu kembali menjadi kekasihku, karna aku yakin kamu hanya akan menganggapku kekanank-kanakan. Dan aku tak ingin lagi mengetahui alasan bahwa sebenarnya kamu hanya 'kasihan'  Namun ini untuk menyampaikan bahwa aku sudah tahu rasanya 'mencintai tanpa harus memiliki'. Aku mendoakan kebaikan untukmu, dan juga mengamini segala doa mu (meski untuk sebuah nama, bukan aku).

Salam untuk negara, atas tanah tempatmu berpijak kini. Semoga langkahmu tak lama-lama membiarkan rinduku terseok-seok bertemu. Masih betah di Turki? Iya, aku tahu di sana kamu bisa menggapai cita-cita dan cinta mu, jadi di Indonesia biarkan saja perempuan ini meneguk setiap ingatan bahwa 'jika kamu bahagia, aku juga'.

Happy birthday.
dari perempuan dengan bobot 35kg yang merindukan kalimat 'jangan telat makan' dan 'jangan keseringan makan mie instan' darimu :)

*sebenarnya tulisan ini kubuat untuk ikut serta penulisan #30hariMenulisSuratCinta di 30 januari kemarin. Tapi akhirnya kubatalkan. Sebab ini bukan untuk dibaca banyak orang. Dan kenapa akhirnya kukeluarkan dari draft? Karna biar perasaanku bisa tenang. Mungkin saja rinduku mandiri untuk menyapamu tanpa kupakasakan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar