Menulis biar ingat dan menulis buat lupa.
Ternyata masih ada tembok se dada yang memberi jarak. Ternyata meski bisa saling tatap namun sulit untuk saling menggenggam. Seingin itu. Juga setakut itu. Karna aku bukan siapa-siapa.
Hanya merindukan yang lupa untuk berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar